PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS
23,
Mei 2015
Disusun
Oleh :
Program
Studi
ManajemenPendidikan
Fakultas
IlmuTarbiyah
dan
Keguruan
Universitas
Islam Negeri
Syarif
Hidayatullah
Jakarta
2015
Pertanyaan
pemanasan ABK
-
Bagaimana perasaan anda hari ini ?
Jawab
: perasaan saya hari ini senang
-
Andai kata dilarang senyum, apa saja yang akan terjadi ?
Jawab
: yang akan terjadi pasti hidup terasa lebih membosankan
-
Bagaimana memperbaiki buku pelajaran, tas sekolah sepatu, permainan, papan tulis, dsb ?
Jawab
: memperbaiki buku pelajaran dengan menyampul dan memfotocopynya, tas
sekolah dengan dijahit, sepatu di sol, permainan dengan di lem, papan
tulis dengan diperbaiki bagian yang rusaknya.
-
Untuk apa saja kursi itu digunakan ?
Jawab
: Kursi itu selain digunakan untuk duduk, dapat juga digunakan
sebagai tempat menaruh barang, dan untuk menjangkau barang yang
tinggi.
-
Bagaimana cara mengatasi anak berkebutuhan khusus yang sulit terkontrol emosinya ?
Jawab
: yaitu dengan cara selalu bersabar, karena pada dasarnya anak
berkebutuhan khusus itu memang harus diberi bimbingan khusus yang
ekstra.
Pertanyaan-pertanyaan
audience
-
Bagaimana peran keluarga terhadap ABK ?
-
Apakah Renaldi, Oki, dan Fathur termasuk ABK ?
-
Apakah anak yang cacat mental termasuk ABK ?
-
Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
“Anak
berkebutuhan khusus adalah mereka yang mempunyai kebutuhan baik
permanen maupun sementara untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang
disesuaikan yang disebabkan oleh :
-
Kondisi sosial-emosi
-
Kondisi ekonomi
-
Kondisi politik
-
Kelainan bawaan maupun yang didapat kemudian”1
Anak
berkebutuhan khusus menurut ahli :
-
“Mulyono (2006) : anak berkebutuhan khusus dapat dimaknai dengan anak-anak yang tergolong cacat atau menyandang ketentuan dan juga anak yang berbakat.
-
Heward : anak berkebutuhan khusus adalah anak dngan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.”2
-
Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus
“Anak
berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini adalah anak yang mengalami
penyimpangan sedemikian rupa dari anak normal baik dalam hal
karakteristik mental, fisik, sosial, emosi ataupun kombinasi dari
hal-hal tersebut, sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus
supaya dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Jelas dari
definisi itu anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan/program
khusus dalam pendidikannya supaya potensinya/kemampuannya dapat
berkembang secara optimal. Dalam pembahasan ini anak berkebutuhan
khusus hanya dibatasi dengan lima anak berkebutuhan khusus
diantaranya ; anak tunanetra, anak tunarungu, anak terbelakang, anak
tunadaksa, dan anak tunalaras. Dalam
segi sosialisasi pada umumnya mereka mengalami kesulitan dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, meskipun di balik itu
mengalami kemudahan dalam menyesuaikan dengan sesama anak
berkebutuhan khusus yang sama kelainannya. Kesulitan menyesuaikan
diri dapat terjadi karena adanya rasa rendah diri yang disebabkan
adanya kelainan ataupun keterbatasan dalam kesanggupannya
menyesuaikan diri.
Dilihat
dari segi stabilitas emosinya, nampak bahwa pada umumnya emosi kurang
stabil, mudah putus asa, tersinggung, konflik diri dan sebagainya.
Hal ini muncul diduga karena keterbatasannya di dalam gerak, wawasan
dan mengendalikan diri.
Sedangkan
dalam segi komunikasi juga mengalami hambatan atau gangguan terutama
bagi mereka yang mempunyai kelainan cukup berat, meskipun terbantu
dengan kemampuan-kemampuan lainnya, misalnya : yang mengalami
gangguan penglihatan dapat diatasi dengan pendengaran atau perabaan,
gangguan pendengaran dapat diatasi dengan penglihatannya dan
sebagainya.
-
Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunanetra
Yang
dimaksud dengan anak tunanetra adalah anak yang mengalami
penyimpangan atau kelainan indera penglihatan baik kelainan itu
bersifat berat maupun ringan, sehingga memerlukan pelayanan khusus
dalam pendidikannya untuk dapat mengembangkan potensinya seoptimal
mungkin.
Karakteristik
anak tunanetra di antaranya sebagai berikut :
-
Anak tunanetra tidak mengharapkan simpati dari orang lain, tetapi mengharapkan diperlukan sebagaimana orang lain dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri agar dapat mandiri di kemudian hari.
-
Dia tidak mampu mengamati bagaimana orang lain melakukan sesuatu.
-
Pada umumnya mempunyai kepribadian yang relatif berbeda dengan anak awas, misalnya merasa rendah diri, hidupnya tidak terarah dan tak bermakna, mudah mengalami frustasi dan sebagainya.
-
Pada umumnya memiliki perbedaan yang cukup tajam di dalam menanggapi dan mereaksi lingkungan.
Dari
karakteristik yang dimilikinya munculah
beberapa jenis masalah yang dihadapi individu terutama yang dihadapi
oleh murid-murid sekolah.
-
Masalah pengajaran
-
Masalah pendidikan
-
Masalah gangguan emosi
-
Masalah penyesuain diri
-
Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunarungu
-
Karakteristik fisik, meliputi :
-
Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk karena daya keseimbangan terganggu;
-
Gerakkan kaki dan tangannya lincah/cepat sebab sering digunakan untuk berkomunikasi dengan lingkungannya, sebagai pengganti bahasa lainnya;
-
Gerakan matanya cepat dan bringas, apabila organ ini tidak dijaga dengan baik dapat berakibat kemampuan melihat menurun karena selalu digunakan sebagai pengganti alat pendengarannya;
-
Kemampuan pernapasannya pendek-pendek terganggu, sehingga tidak mampu berbahasa dengan baik.
-
Karakteristik dalam segi bicara/bahasa, meliputi :
-
Biasanya individu yang tuli juga mengalami ketidakmampuan dalam berbahasa;
-
Tunarungu yang diperoleh sejak lahir dapat belajar bicara dengan suara normal;
-
Dia kurang menguasai irama dan gaya bahasa;
-
Dia mengalami kesulitan dalam berbahasa verbal dan pasif dalam berbahasa.
-
Karakteristik kepribadiannya, meliputi :
-
Anak tunarungu yang tidak berpendidikan cenderung murung, penuh curiga.
-
Lingkungan yang menyenangkan dan memanjakan dapat berpengaruh terhadap ketidakmampuan dalam penyesuaian mental maupun emosi; dan
-
Anak tunarungu menunjukkan kondisi yang lebih neurotik, mengalami ketidakamanan, dan berkepribadian tertutup (introvert)
-
Karakteristik emosi dan sosialnya, meliputi :
-
Suka menafsirkan secara negatif
-
Kurang mampu dalam mengendalikan emosinya dan sering emosinya bergejolak
-
Memiliki rasa cemburu dan merasa di perlakukan tidak adil serta sulit bergaul.
Masalah-masalah
lainnya, sebagai berikut :
-
Masalah komunikasi
-
Masalah pribadi
-
Masalah pengajaran atau kesulitan belajar
-
Masalah penggunaan waktu terluang
-
Masalah pembinaan keterampilan dan pekerjaan
-
Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunagrahita
-
Karakteristik mental, meliputi :
-
Mereka menunjukkan kecenderungan menjawab dengan ulangan respon terhadap pertanyaan yang berbeda;
-
Mereka tidak mampu memberikan kritik;
-
Kemampuan asosiasinya terbatas;
-
Kapastitas inteleknya sangat rendah.
-
Karakteristik fisik, meliputi :
-
Mereka cenderung memiliki penyimpangan fisik dari bentuk rata-rata. Misalnya; adanya ketidaksamaan/ketidakserasian anatar kepala dan wajah (muka), dari ukuran besar kepala ada yang besar atau ada yang kecil, dll.
-
Biasanya mereka mengalami hambatan bicara dan berjalan.
-
Pemeliharaan diri kurang (terutama yang tingkat bawah)
-
Karakteristik sosial-emosi, meliputi :
-
Ada kecenderungan tidak mampu menyesuaikan diri.
-
Minat permainan mereka tidak cocok dengan anak yang seusianya.
-
Memiliki problem emosi dan tingkah laku.
-
Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari
-
Masalah kesulitan belajar
-
Masalah penyesuaian diri
-
Masalah penyaluran ke tempat kerja
-
Masalah gangguan kepribadian dan emosi
-
Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunadaksa
Yang
dimaksud dengan anak tunadaksa adalah anak yang mempunyai kelainan
ortopedik atau salah bentuk atau berupa gangguan dari fungsi normal
pada tulang, otot, dan persendian yang mungkin karena bawaan sejak
lahir, penyakit atau kecelakaan, sehingga apabila mau bergerak atau
berjalan perlu alat bantu.
-
Karakteristik kepribadian, meliputi :
-
Mereka yang cacat sejak lahir tidak pernah memperoleh pengalaman.
-
Tidak ada hubungan antara pribadi yang tertutup dengan lamanya kelainan fisik yang diderita.
-
Adanya kelainan fisik tidak mempengaruhi kepribadian atau ketidakmampuan individu dalam menyesuaikan diri.
-
Karakteristik emosi-sosial, meliputi :
-
Kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dijangkau oleh anak tunadaksa dapat berakibat timbulnya emosi.
-
Menyingkirkan diri dari keramaian.
-
Cenderung acuh ketika dikumpulkan pada anak-anak normal.
-
Karakteristik intelegensi, meliputi :
-
Tidak ada hubungan antara tingkat kecerdasan dengan kecacatan, tetapi ada beberapa kecenderungan yakni adanya penurunan sedemikian rupa kecerdasan individu bila kecacatan meningkat.
-
IQ anak tunadaksa rata-rata normal.
-
Karakteristik fisik, meliputi :
-
Biasanya disamping mengalami cacat tubuh, ada kecenderungan mengalami gangguan-gangguan lain, misalnya: sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, dll.
-
Kemampuan motoriknya terbatas.
Penggolongan
masalah lainnya, antara lain :
-
Masalah kesulitan belajar
-
Masalah sosialisasi
-
Masalah kepribadian
-
Masalah keterampilan
-
Masalah latihan gerak”3
-
Pendidikan Inklusif
“Pendidikan
inklusif adalah pendidikan untuk :
-
Semua anak dan orang dewasa yang butuh belajar
-
Anak-anak daan orang dewasa yang mempunyai kemampuan tinggi seperti talenta dan anak cerdas
-
Orang-orang dengan hambatan fisik maupun psikis baik yang permanen maupun sementara seperti gangguan emosional dan tingkah laku, gangguan penglihatan, pendengaran, kesulitan belajar, disfungsi otak, gangguan motorik dsb.
-
Orang-orang yang terpinggirkan seperti anak jalanan, pekerja anak, dan pemakai bahan minoritas
Kelompok
sasaran dalam pendidikan inklusif itu bukan anak yang berkelainan
saja tapi meliputi sebagian besar anak yang belajar. Oleh karenanya
sekolah hendaknya mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi
fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, ataupun kondisi lainnya.
Sekolah harus mencari cara agar berhasil mendidik semua anak,
termasuk mereka yang berkebutuhan pendidikan khusus.”4
Menurut
Hahn 1989; Will, 1986 menyatakan bahwa siswa paling mungkin
mengembangkan relasi dan keterampilan sosial yang normal dengan
teman-teman sebaya bila mereka berpartisipasi seoptimal mungkin dalam
seluruh kehidupan sosial sekolahnya. Sebaliknya, beberapa ahli lain
kuatir bahwa apabila siswa-siswa berkebutuhan khusus dimasukkan di
kelas biasa untuk mengikuti kegiatan belajar sampai selesai, mereka
tidak dapat memperoleh instruksi khusus yang intensif yang dibutuhkan
agar dapat menguasai keterampilan dasar yang penting dalam bidang
membaca dan sebagainya. (Manset & Semmel, 1997; Zigmond et. Al.,
1995)
Dalam
kenyataan, banyak studi penelitian menunjukkan bahwa penempatan para
siswa yang mengalami dalam kelas pendidikan umum dapat memberikan
sejumlah keuntungan dibandingkan menempatkan mereka dalam kelas
pendidikan khusus :
-
Gambaran diri yang lebih positif
-
Keterampilan sosial yang lebih baik
-
Lebih sering berinteraksi dengan teman-teman sebaya yang normal
-
Perilaku yang lebih sesuai di kelas
-
Prestasi akademik yang setara (dan kadangkala lebih tinggi) dengan prestasi yang dicapai bila ditempatkan dalam kelas khusus. (Halvorsen &Sailor, 1990; Hunt & Goetz, 1997; MacMaster, Donovan, & MacIntyre, 2002)5
-
Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus
-
Anak Berkebutuhan Khusus Temporer
Anak
berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) adalah anak
yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan
oleh faktor-faktor eksternal. Misalnya anak yang yang mengalami
gangguan emosi karena trauma akibat diperkosa sehingga anak ini tidak
dapat belajar. Pengalaman traumatis seperti itu bersifat sementara
tetapi apabila anak ini tidak memperoleh intervensi yang tepat boleh
jadi akan menjadi permanen. Anak seperti ini memerlukan layanan
pendidikan kebutuhan khusus, yaitu pendidikan yang disesuikan dengan
hambatan yang dialaminya tetapi anak ini tidak perlu dilayani di
sekolah khusus. Di sekolah biasa banyak anak-anak yang mempunyai
kebutuhan khusus yang bersifat temporer, dan mereka memerlukan
pendidikan yang disesuaikan yang disebut pendidikan kebutuhan khusus.
-
Anak Berkebutuhan Khusus Permanen
Anak
berkebutuhan khusus yang bersifat permanen adalah anak-anak yang
mengalami
hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal dan
akibat langsung dari kondisi kecacatan, yaitu seperti anak yang
kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran, gannguan perkembangan
kecerdasan dan kognisi, gangguan gerak (motorik), gangguan
iteraksi-komunikasi, gangguan emosi, sosial dan tingkah laku. Dengan
kata lain anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanent sama
artinya dengan anak penyandang kecacatan. Anak berkebutuhan khusus
permanen meliputi:
-
Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)
Secara
umum tunanetra dikelompokkan menjadi buta dan kurang lihat. Sebagian
ahli mengelompokkannya menjadi kurang lihat (low
vision),
buta (blind),
dan buta total (totally
blind).
Anak yang memiliki kerusakan ringan pada penglihatannya (seperti
myopia
dan hypermetropia
ringan) masih dapat dikoreksi dengan bantuan kacamata dan bisa
mengikuti pendidikan seperti anak lainnya, sehingga tidak
dikelompokkan pada tunanetra.
Ketunanetraan
dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 hal, yaitu tingkat ketajaman
penglihatan,saat terjadinya ketunanetraan serta adaptasi
pendidikannya.
-
Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan
-
Tunanetra dengan ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m atau 20/70 feet-20/200 feet disebut tunanetra kurang lihat (low vision). Pada taraf ini para penderita masih mampu melihat dengan bantuan alat khusus.
-
Tunanetra dengan ketajaman penglihatan antara 6/60m atau 2/200 feet atau kurang, dikatakan tunanetra berat atau secara umum dapat dikatakan buta (blind). Kelompok ini masih dapat diklasifikasikan lagi menjadi tunanetra yang masih dapat melihat gerakan tangan dan tunanetra yang hanya dapat membedakan terang dan gelap.
-
Tunanetra yang memiliki visus 0. Pada taraf yang terakhir ini, anak sudah tidak mampu lagi melihat rangsangan cahaya atau dapat dikatakan tidak dapat melihat apapun dan disebut buta total.
-
Berdasarkan Saat Terjadinya Ketunanetraan
-
Tunanetra sebelum dan sejak lahir
Kelompok
ini masih belum mempunyai konsep penglihatan. Oleh karena itu, peran
orang tua sangat besar untuk melatih penggunaan indra-indra yang
masih dimilikinya.
-
Tunanetra batita (di bawah 3 tahun)
Konsep
penglihatan yang telah dimiliki lama kelamaan akan hilang sehingga
kesan-kesan visual atau konsep-konsep tentang benda atau lingkungan
yang dimilikinya tidak terlalu bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya.
Oleh karena itu, orang-orang di sekitarnya perlu membantu mengulang
kembali segala sesuatu yang telah dimengerti anak, saat ia masih
dapat melihat.
-
Tunanetra balita (3-5 tahun)
Konsep
penglihatan akan tetap terbentuk dengan cukup berarti sehingga akan
menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah
pendidikannya. Peran orang tua dan guru TK sangat besar artinya dalam
membina dan mengarahkan konsep yang telah dimiliki.
-
Tunanetra pada usia sekolah (6-12 tahun)
Konsep
penglihatan telah terbentuk dan mempunyai kesan-kesan visual yang
banyak dan bermanfaat bagi perkembangan pendidikannya. Namun
demikian, mereka harus tetap mendapat perhatian khusus dari orang tua
dan gurunya dalam menempuh pendidikannya karena mereka cenderung
mengalami guncangan jiwa. Oleh karena itu, tugas para guru adalah
menyadarkan mereka agar mau menerima kenyatan sehingga anak dapat
berkembang dan menambah pengalamannya dalam ketunanetraannya.
-
Tunanetra remaja (13-19 tahun)
Anak
remaja sudah memiliki kesan-kesan visual yang sangat mendalam. Kesan
ini akan bermanfaat dalam mendukung perkembangan kehidupan
selanjutnya. Namun, ketunanetraan pada usia remaja dapat menimbulkan
guncangan jiwa yang sangat berat karena terjadi konflik batin dan
jasmani.
-
Tunanetra dewasa (19 tahun ke atas)
Pada
umumnya di usia dewasa ini mereka sudah memiliki keterampilan dan
kemungkinan pekerjaan yang diharapkan untuk kelangsungan hidupnya dan
keluarganya. Ketunanetraan yang dialaminya menjadi pukulan yang
sangat berat dan menimbulkan guncangan jiwa atau putus asa. Oleh
karena itu, mereka hendaknya mendapatkan layanan dan bimbingan baik
secara jasmani, maupun rohani secara khusus.
-
Berdasarkan Adaptasi Pendidikan
Klasifikasi
ini berdasarkan ketajaman penglihatan. Klasifikasi ini dikemukakan
oleh Kirk (1989: 348-349), yaitu sebagai berikut :
-
Ketidakmampuan melihat taraf sedang (moderate visual disability)
Pada
taraf ini, mereka dapat melakukan tugas – tugas visual yang
dilakukan oleh orang awas dengan menggunakan alat bantu khusus dan
dibantu dengan pemberian cahaya yang cukup.
-
Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability)
Pada
taraf ini, mereka memiliki kemampuan penglihatan yang kurang baik
atau kurang akurat meskipun dengan menggunakan alat bantu visual dan
modifikasi sehingga mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan energi
dalam melakukan tugas- tugas visual.
-
Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability)
Pada
taraf ini, mereka mendapat kesulitan untuk melakukan tugas-tugas
visual yang lebih detail, seperti membaca dan menulis huruf awas.
Dengan demikian, mereka tidak dapat menggunakan penglihatannnya
sebagai alat pendidikan sehingga indra peraba dan pendengaran
memegang peranan pentimg dalam menempuh pendidikannya.
-
Anak dengan Gangguan Pendengaran dan / Wicara (Tunarungu)
Anak
dengan gangguan pendengaran sering disebut tunarungu. Istilah
tunarungu dirasa lebih halus daripada tuli. Klasifikasi tunarungu:
-
Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran, ketunarunguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
-
Tunarungu ringan (mild hearing loss) anatara 27-40 dB.
Siswa
yang mengalami kondisi ini sulit mendengar suara yang jauh sehingga
membutuhkan tempat duduk yang strategis.
-
Tunarungu sedang (moderate hearing loss) anatara 41-55 dB.
Ia
dapat mengerti percakapan dari jarak 3-5 feet
secara berhadapan (face
to face),
tetapi tidak dapat mengikuti diskusi kelas. Ia membutuhkan alat bantu
dengar serta terapi bicara.
-
Tunarungu agak berat (moderately severe hearing loss) antara 56-70dB.
Ia
hanya dapat mendengar suara dari jarak dekat sehingga ia perlu
menggunakan hearing
aid.
-
Tunarungu berat (severe hearing loss) antara 71-90dB.
Ia
hanya dapat mendengar suara – suara yang keras dari jarak dekat.
Siswa tersebut membutuhkan pendidikan khusus secara intensif, alat
bantu dengar, serta latihan untuk mengembangkan kemampuan bicara dan
bahasanya.
-
Tunarungu berat sekali (profound hearing loss)
Pada
kondisi ini mengalami kehilangan pendengaran lebih dari 90dB. Mungkin
ia masih mendengar suara yang keras, tetapi ia lebih menyadari suara
melalui getarannya (vibrations)
daripada pola suara.
-
Berdasarkan saat terjadinya, ketunarunguan dapat diklasifikasikan:
-
Ketunarunguan prabahasa (prelingual deafness), yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi sebelum kemampuan bicara dan bahasa berkembang.
-
Ketunarunguan pascabahasa (post lingual deafness), yaitu kehilangan pendengaran yang terjadi beberapa tahun setelah kemampuan bicara dan bahasa berkembang.
-
Berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis, ketunarunguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
-
Tunarungu tipe konduktif, yaitu kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh terjadinay kerusakan pada telinga bagian luar dan tengah yang berfungsi sebagai alat konduksi atau pengantar getaran suara menuju telinga bagian dalam.
-
Tunarungu tipe sensorineural, yaitu tunarungu yang disebabkan oelh terjadinya kerusakan pada telinga dalam serta saraf pendengaran (nervus chochlearis).
-
Tunarungu tipe campuran yang merupakan gabungan antara tipe konduktif dan sensorineural, artinya kerusakan terjadi pada telinga luar / tengah dengan telinga dalam/saraf pendengaran.
-
Berdasarkan etiologi atau asal usulnya, ketunarunguan dibagi menjadi :
-
Tunarungu endogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh faktor genetik (keturunan).
-
Tunarungu eksogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh faktor nongenetik (bukan keturunan).
-
Anak dengan Kelainan Kecerdasan di bawah Rata-rata (Tunagrahita)
Anak
dengan kelainan kecerdasan di bawah rata – rata sering disebut
dengan istilah tunagrahita. Klasifikasi tunagrahita yang dikemukakan
oleh AAMD (Halaman, 1982:43) sebagai berikut:
-
Mild mental retardation (tunagrahita IQ-nya 70 – 55 ringan)
-
Moderate mental retardation (tunagrahita IQ-nya 55 – 40 sedang)
-
Severe mental retardation (tunagrahita IQ-nya 40 – 25 berat)
-
Profound mental retardation (tunagrahita IQ-nya 25 ke bawah) (sangat berat).
Pengelompokkan
tunagrahita berdasarkan kelainan jasmani (tipe klinis) :
-
Down Syndrome (Mongoloid)
Anak
tunagrahita jenis ini disebut demikian karena memiliki raut muka
menyerupai orang mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal
suka menjulur keluar, telinga kecil, kulit kasar, susunan gigi kurang
baik.
-
Kretin (Cebol)
Anak
ini memperlihatkan ciri-ciri, seperti badan gemuk dan pendek, kaki
dan tangan pendek dan bengkok, kulit kering, tebal dan keriput,
rambut kering, lidah dan bibir, kelopak mata, telapak tangan dan kaki
tebal, pertumbuhan gigi lambat.
-
Hydrocephal
Anak
ini memiliki ciri -ciri kepala besar, raut muka kecil, pandangan dan
pendengaran tidak sempurna, mata kadang-kadang juling.
-
Microcephal
Anak
ini memiliki ukuran kepala yang kecil.
-
Macrocephal
Anak
ini memiliki ukuran kepala yang besar dari ukuran normal.
-
Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa (gifted and talented)
-
Cerdas istimewa (gifted IQ 140-179 and genius IQ 180 ke atas) anak dengan IQ di atas rata-rata. Gifted, yang termasuk dalam golongan ini yaitu mereka yang tidak jenius, tetapi menonjol dan terkenal. Anak cerdas istimewa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-
Membaca pada usia lebih muda, lebih cepat, dan memiliki perbendaharaan kata yang luas.
-
Memiliki rasa ingin tahu yang kuat, minat yang cukup tinggi.
-
Berinisiatif, kreatif, dan original dalam menunjukkan gagasan.
-
Mampu memberikan jawaban-jawaban atau alasan yang logisi, sistematis dan kritis.
-
Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu yang panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati.
-
Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi.
-
Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah.
Genius,
pada
kelompok ini bakat dan keistimewaannya telah tampak sejak kecil.
Misalnya, umur 2 tahun mulai belajar membaca dan pada umur empat
tahun belajar bahasa asing. Kelompok ini mempunyai kecerdasan yang
sangat luar biasa. Walaupun tidak sekolah, mereka mampu menemukan dan
memecahkan masalah. Jumlahnya sangat sedikit, namun terdapat semua
ras dan bangsa, semua jenis kelamin, serta dalam semua tingkatan
ekonomi. Contoh orang yang jenius, antara lain: John Stuart Mill (IQ
200), Francis Galton (IQ 200), dan Goethe (IQ 185). Menurut Francis
Galto Goethe
Ciri-ciri
anak
jenius:
-
Punya kemampuan bernalar yang bagus.
-
Bisa belajar dengan cepat.
-
Punya perbendaharan kata yang luas.
-
Punya kemampuan mengingat yang bagus.
-
Bisa konsentrasi lama pada hal-hal yang menarik bagi dirinya.
-
Sensitif perasaannya dan mudah merasa “tertusuk”.
-
Cepat menunjukkan rasa peduli.
-
Perfeksionis dan intensif.
-
Bakat istimewa (talented) anak dengan bakat khusus (akademik atau non akademik.
Anak
yang memiliki potensi kecerdasan
istimewa (gifted)
dan anak yang memiliki bakat istimewa (talented) adalah anak yang
memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan tanggung
jawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya
(anak normal), sehingga untuk mengoptimalkan potensinya, diperlukan
pelayanan pendidikan khusus. Anak
cerdas dan berbakat istimewa disebut sebagai ”gifted & talented
children”.
Bakat
khusus akademik yaitu bakat yang sejak awal sudah ada yang berkaitan
dengan intelektual, seperti bakat dalam mata pelajaran matematika,
bakat bidang bahasa dan bakat ilmu. Bakat khusus non akademik yaitu
bakat yang sejak awak sudah ada dan terarah pada suatu lapangan yang
terbatas, seperti bakat musik, bakat melukis, dan bakat seni.
-
Anak dengan gangguan anggota gerak (tunadaksa).
Tunadaksa
adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada
anggota gerak (tulang, sendi, otot). Pengertian anak Tunadaksa bisa
dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya.Dari segi
fungsi fisik, tunadaksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan
kesehatanya terganggu sehingga mengalami kelainan di dalam
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ciri-ciri
anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:
-
Jari tangan kaku dan tidak dapat mengenggam.
-
Ada bagian anggota gerak yang tidak sempurna/lebih kecil dari biasa.
-
Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur, bergetar)
-
Terdapat cacat pada anggota gerak
-
Anggota gerakl ayu, kaku, lemah/lumpuh.
Anak
dengan gangguan anggota gerak (tunadaksa), contohnya:
-
Anak layuh anggota gerak tubuh (polio)
-
Anak dengan gangguan fungsi syaraf otak (cerebral palsy)
-
Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku).
Anak
Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku) memiliki
ciri-ciri, diantaranya:
-
Cenderung membangkang.
-
Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah.
-
Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu.
-
Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum.
-
Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah, sering bolos, jarang masuk sekolah.
Anak
dengan
gangguan
perilaku
dan
emosi,
dibagi menjadi dua, yaitu:
-
Anak dengan gangguan perilaku
-
Anak dengan gangguan perilaku taraf ringan
-
Anak dengan gangguan perilaku taraf sedang
-
Anak dengan gangguan perilaku taraf berat
-
Anak dengan gangguan emosi
-
Anak dengan gangguan emosi taraf ringan
-
Anak dengan gangguan emosi taraf sedang
-
Anak dengan gangguan emosi taraf berat
-
Anak Dengan Kesulitan Belajar Spesifik (specific learning disability)
Menurut
Federal law atau hukum federal (IDEA, 1997): Istilah “kesulitan
belajar spesifik” menerangkan semua anak yang mengalami gangguan
pada satu atau lebih proses psikologis dasar yang melibatkan
pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau tulisan dimana gangguan
yang terjadi dapat termanifestasikan menjadi kemampuan yang tidak
sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis,
mengeja, atau mengerjakan perhitungan matematika. Menurut
Association for Children and Adult with Learning Disability (ACALD)
“Kesulitan
belajar spesifik” adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber
dari faktor neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan,
integrasi dan /atau kemampuan verbal dan/atau non verbal.
Berdasarkan
pengertian-pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kesulitan
belajar spesifik meupakan kelainan sistem saraf yang dialami oleh
seseorang yang mengakibatkan pola pertumbuhan yang tidak seimbang dan
kelemahan pada proses syaraf, sehingga akan mengakibatkan seseorang
kesulitan dalam menyelesaikan tugas akademik dan pembelajaran.
Kesulitan-kesulitan tersbut seperti kesulitan berfikir, membaca,
berhitung, berbicara. Karakteristik anak berkesulitan belajar
spesifik antara lain:
-
Pada masa kanak-kanak:
-
Kesulitan mengekspresikan diri.
-
Lambat dalam mengerjakan tugas seperti mengikat sepatu
-
Tidak perhatian, mudah terganggu
-
Ketidakmampuan mengikuti arahan karena ketidakmampuan memahami instruksi lisan.
-
Lemah dalam ketrampilan bermain di lapangan.
-
Pada usia remaja dan dewasa:
-
Kesulitan dalam memproses informasi auditori
-
Kehilangan barang-barang miliknya, keterampilan mengatur lemah
-
Lambat dalam membaca, pemahaman rendah
-
Kesulitan dalam mengingat nama orang dan tempat
-
Kesulitan mengatur ide untuk menulis
Anak-anak
yang termasuk kedalam kesulitan belajar spesifik meliputi:
-
Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia), ciri-cirinya seperti:
-
Perkembangan kemampuan membaca terlambat
-
Kemampuan memahami isi bacaan rendah
-
Serta ketika membaca sering banyak kesalahan.
-
Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia) ciri-cirinya:
-
Ketika menyalin tulisan sering terlambat selesai, sering salah menulis huruf.
-
Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca
-
Tulisannya banyak salah atau terbalik atau huruf hilang
-
Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
-
Anak yang kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) ciri-cirinya seperti:
-
Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =,
-
Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan.
-
Sering salah membilang dengan urut.
-
Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya.
-
Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
Cara
pengajaran anak berkesulitan belajar di sekolah antara lain:
-
Pemberdayaan sensori visual dapat dilakukan dengan :
-
Diskriminasi visual, pembelajaran dengan mencari perbedaan dan persamaan huruf atau suku kata. Misal : Mintalah anak untuk membedakan kata-kata yang hampir sama, seperti : batu, bata, tabu.
-
Memori visual. Misal : Guru menunjukkan suatu kata selama beberapa detik lalu menyembunyikannya. Siswa berupaya mengingat huruf-huruf yang ada dalam kata itu.
-
Menyebutkan nama huruf. Misal : Minta anak mencari kata dengan huruf depan ‟m‟ atau ‟w‟ di majalah lalu menggunting dan ditempel di buku.
-
Pemberdayaan sensori auditori dapat dilakukan dengan cara :
-
Irama, ini penting untuk belajar tentang ’word familiar’ (kata dengan bunyi sama). Siswa diajarkan untuk melengkapi puisi atau sajak a-a-a.
-
Blending (menggabung huruf).
Langkah
pengajarannya :
-
Ucapkan dua suku kata yang berbeda (Ba-Tu).
-
Minta anak mengulang dan bantu ia mengenali 2 suku kata pembentuknya
-
Memori auditori.
-
Ucapkan kalimat sederhana dan minta anak mengulang. Kalimat dapat ditingkatkan semakin panjang.
-
Minta anak menghafal puisi atau lagu.
-
Anak Lamban Belajar (slow learner)
Anak
lamban belajaradalah
anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan
mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai
ketidakmampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri, sehingga
memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah-masalah yang mungkin
bisa jadi penyebab anak lamban belajar antara lain karena masalah
tingkat konsentrasinya yang rendah, daya ingat yang lemah, kognisi,
serta masalah sosial dan emosional.
-
Karakteristik Anak Yang Lamban Belajar
-
Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6
-
Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya
-
Daya tangkap terhadap pelajaran lambat
-
Pernah tidak naik kelas.
-
Bimbingan Terhadap Siswa Yang Lambat Belajar
Ada
banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru dalam melakukan
bimbingan terhadap siswa yang lambat belajar antara lain:
-
Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi
-
Ubahlah cara mengajar dan jumlah materi yang akan diajarkan. Siswa yang mengalami masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan terlalu cepat. Oleh karena itu, akan berguna bagi mereka untuk memperlambat laju pembelajaran, melibatkan siswa dengan memberi pertanyaan, dan gunakan media dalam pembelajaran untuk lebih membantu siswa berkonsentrasi belajar.
-
Adakan pertemuan dengan siswa. Dalam pertemuan ini seorang guru memberikan penjelasan dengan cara yang tanpa memberikan hukuman dan tanpa ancaman akan sangat berguna bagi siswa.
-
Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran. Dengan cara membawa mereka dekat dengan kita sebagai guru secara fisik dan harfiah akan membawa si anak lebih dekat kepada proses pengajaran.
-
Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang, seperti dengan memberikan penghargaan atas kehadirannya.
-
Utamakan ketekunan perhatian daripada kecepatan menyelesaikan tugas. Siswa mungkin merasa kecil hati dan tidak diperhatikan bila mereka dihukum karena terlambat menyelesaikan dibanding temannya. Guru haruslah membuat penyesuaian dalam jumlah tugas maupun waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas berdasar kemampuan masing-masing individu.
-
Ajarkan self-monitoring of attention. Melatih siswa untuk memonitor perhatian mereka sendiri sewaktu-waktu dengan menggunakan timer. Hal ini akan membantu menciptakan perhatian yang lebih besar bagi kebutuhan dalam memfokuskan perhatian juga bisa berguna dalam strategi untuk memperkokoh keterampilan memperhatikan.
-
Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat.
-
Ajarkan menggaris bawahi dengan penanda, untuk membantu memancing ingatan. Guru harus memberi tahu siswa cara memilih kalimat dan istilah kunci untuk diberi garis bawah.
-
Perbolehkan menggunakan alat bantu memori. Karena alat-alat itu bisa berfungsi bagi mereka sebagai alat pengingat dan bisa jadi juga sebagai alat pengajaran.
-
Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas kelas dan rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.
-
Ajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan memberikan tes langsung setelah pelajaran disampaikan.
-
Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi.
-
Berikan materi yang dipelajari dalam konteks “high meaning”. Ini berguna untuk untuk mengetahui apakah siswa memahami arti bacaan suatu pertanyaan mengenai materi baru.
-
Menunda ujian akhir dan penilaian. Bagi sebagian siswa, menunda ujian akhir mereka sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari, mungkin merupakan cara terbaik.
-
Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang “tidak pernah gagal”. Siswa biasanya memiliki perasaan akan gagal berbagai hal yang mereka lakukan. Memutuskan rantai kegagalan dan menciptakan kepercayaan diri bagi siswa ini merupakan sesuatu yang paling penting bagi guru untuk melakukannya.
-
Bimbingan bagi anak dengan masalah social dan emosional
-
Buatlah sistem perhargaan kelas yang dapat diterima dan dapat diakses. Siswa berkesulitan belajar perlu memahami sistem penghargaan dikelas dan merasa ikut serta di dalamnya. Jangan sampai mereka merasa tidak memilki kesempatan untuk mendapatkan penghargaan yang diterima siswa lain.
-
Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain. Membantu siswa menjadi lebih mengenal sikap mereka dan dampaknya pada orang lain merupakan kesempatan yang berarti bagi perkembangan sosial dan emosional.
-
Mengajarkan sikap positif. Ketika siswa berkesulitan belajar menjadi lebih sadar terhadap sikapnya dan mendapat pemahaman yang lebih baik atas interaksi dengan orang lain, mereka akan merespon dengan baik intruksi-intruksi tentang cara membentuk hubungan yang baik dan lebih positif.
-
Minta bantuan. Cari bantuan pada teman sejawat disekolah yang mungkin dapat memberikan bantuan.
-
Anak Autis
Autisme
berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang
mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982),
autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau
dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran
subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering
disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.
Autisme
adalah gangguan yang parah pada kemampuan komunikasi yang
berkepanjangan yang tampak pada usia tiga tahun pertama,
ketidakmampuan berkomunikasi ini diduga mengakibatkan anakpenyandang
autis menyendiri dan tidak ada respon terhadap orang lain (Sarwindah,
2002). Yuniar (2002) menambahkan bahwa Autisme adalah gangguan
perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat
kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan
orang lain, sehingga sulit untuk mempunyai ketrampilan dan
pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat.
Jadi
dapat disimpulkan definisi autisme
adalah gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau
berhubungan lagi dengan dunia luar, merupakan gangguan perkembangan
yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan
kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain
dan tidak tergantung dari ras, suku, strata-ekonomi, strata sosial,
tingkat pendidikan, geografis tempat tinggal, maupun jenis makanan.
Autisme
atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika.
Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis
pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom
Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi
wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan
sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau
mengajak mereka berkomunikasi. Gejala-gejala anak autis tampak sejak
lahir, biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Berikut
beberapa gejala-gejala anak autis:
-
Tidak bermain dengan teman sebaya dengan cara yang sesuai
-
Terlambat bicara/tak bisa bicara tanpa kompensasi penggunaan isyarat
-
Penggunaan bahasa yang berulang
-
Minat yang terbatas dan abnormal dalam intensitas dan fokus
-
Sensitifitas berlebihan /kurang sensitif
-
Terdapat bakat-bakat dibidang membaca, aritmatika, menggambar, mengeja, olahraga, komputer
Beberapa
lembaga pendidikan (sekolah) yang selama ini menerima anak autis
adalah sebagai berikut :
-
Anak Autis di sekolah Normal dengan Integrasi penuh.
-
Anak Autis di sekolah Khusus.
-
Anak Autis di SLB.
-
Anak Autis hanya menjalani terapi.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul
Salim Chairi, dkk. 2009. Pendidikan
Anak Berkebutuhan Khusus Secara Inklusif. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Ellis
Ormrod, 2008. Pendidikan
Psikologi. Jakarta:
Erlangga
Hadis
Abdul. 2006. Pendidikan
Anak Berkebutuhan Khusus Autistik.
Bandung: Alfabeta.
Hidayat,dkk,Bimbingan
Anak Berkebutuhan Khusus,
Bandung : Upi Press
http://ihsan.com/artikel/karakteristik-anak-berkebutuhan-khusus.html
pada tanggal 23
Mei
2015.
IG.A.K.Wardani,
dkk. 2008. Pengantar
Pendidikan Luar Biasa. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Ihsan.
2009. Karakteristik
Anak Berkebutuhan Khusus.
Sutratinah
Tirtonegoro. 2001. Anak
Supernormal dan Program Pendidikannya.
Yogyakarta: Bumi Aksara
Winda,
andria, dalam situs nya anak berkebutuhan khusus (diakses pada 23 Mei
2015)
2
Winda, andria, dalam situs nya anak berkebutuhan
khusus (diakses pada 23 Mei 2015)
4
Ibid, hlm 2
5
Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan,
Jakarta : Penerbit Erlangga, 2008, hlm 230
Tidak ada komentar:
Posting Komentar