PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Konsep Diri
Selasa, 12 Mei 2015
Neneng Unsara
11140182000047
Program Studi Manajemen Pendidikan
Fakultas IlmuTarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2015
Definisi Konsep
Diri
Konsep diri merupakan suatu bagian yang penting
dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan
sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia
dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha
menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa
pengertian.
Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap
dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme
yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar
akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian
membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan. Perasaan individu
bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan
banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang
dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki
mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit
untuk diselesaikan. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan
yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai
suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat
berubah karena interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri,
menurut Burns konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita
pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri
kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa
diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat
informasi yang diberikan orang lain pada diri individu
Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep
diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat,
penilaian atau evaluasi dari orang lain yang mengenal dirinya. Individu akan
mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang
lain mengenai dirinya. Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang
lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam
kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya
sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain
dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan
menarik, cantik atau tidak.
Seperti yang dikemukakan Hurlock memberikan
pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang
dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki
individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis,
sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.
Menurut William D. Brooks bahwa pengertian
konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Sedangkan
Centi mengemukakan konsep diri tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang
diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri
sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita
menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Konsep
diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian
seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi
kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu.
Konsep diri merupakan penentu sikap individu
dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan
berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat
individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka
hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya. Dari beberapa pendapat
dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri
adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan
yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan
terdekatnya.
Dalam hal pengertian konsep diri yang masih
sangat banyak dan akan dikemukakan beberapa pendapat dari pakar atau ahli dalam
ilmu psikologi, antara lain sebagai berikut:
1. Menurut pendapat Calhoun dan Acoccela (1990)
pengertian konsep diri adalah cara pandang individu terhadap dirinya akan
membentuk suatu konsep tentang diri sendiri. Konsep tentang diri merupakan hal
yang penting bagi kehidupan individu karena konsep diri menentukan bagaimana
individu bertindak dalam berbagai situasi.
2. Menurut pendapat Stuart dan Sundeen,
pengertian konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain. Hal ini termasuk persepsi individu akan sifat
dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang
berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.
Penghargaan mengenai diri akan menentukan
bagaimana individu akan bertindak dalam hidup. Apabila seorang individu
berpikir bahwa dirinya bisa, maka individu tersebut cenderung sukses, dan bila
individu tersebut berpikir bahwa dirinya gagal, maka dirinya telah menyiapkan
diri untuk gagal.
Jadi bisa dikatakan bahwa konsep diri merupakan
bagian diri yang mempengaruhi setiap aspek pengalaman, baik itu pikiran,
perasaan, persepsi dan tingkah laku individu.Singkatnya, Calhoun dan Acoccela
mengartikan konsep diri sebagai gambaran mental individu yang terdiri dari
pengetahuan tentang diri sendiri, pengharapan bagi diri sendiri dan penilaian
terhadap diri sendiri.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa konsep diri merupakan suatu hal yang sangat
penting dalam pengintegrasian kepribadian, memotivasi tingkah laku sehingga
pada akhirnya akan tercapai kesehatan mental. Konsep diri dapat didefinisikan
sebagai gambaran yang ada pada diri individu yang berisikan tentang bagaimana
individu melihat dirinya sendiri sebagai pribadi yang disebut dengan
pengetahuan diri, bagaimana individu merasa atas dirinya yang merupakan
penilaian diri sendiri serta bagaimana individu menginginkan diri sendiri
sebagai manusia yang diharapkan.
Pengaruh Konsep Diri terhadap Prestasi Belajar
Prestasi
belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena
kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari
proses belajar. Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh
siswa selama proses belajarnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai
faktor yang saling berkaitan.
a)
Fisiologis
(Jasmani)
Secara umum kondisi fisiologis, seperti
kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat
jasmani dan sebagainya. Hal tersebut dapat mempengaruhi peserta didik dalam
menerima materi pelajaran.
Keletihan fisik pada siswa berpengaruh juga
dalam prestasi belajarnya. Menurut Cross dalam bukunya The Psychology of
Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam faktor, yaitu:
1.
Keletihan indra siswa
Keletihan
indera dalam hal ini, lebih mudah dihilangkan dengan cara istirahat yang cukup,
tidur dengan nyenyak, dsb.
2.
Keletihan fisik siswa
Keletihan fisik
siswa berkesinambungan dengan keletihan indera siswa, yakni cara
menghilangkannya relative lebih mudah, salah satunya dengan cara mengkonsumsi
makanan dan minuman yang bergizi, menciptakan pola makan yang teratur,
merelaksasikan otot-otot yang tegang.
3.
Keletihan mental siswa
Keletihan
mental siswa ini dipandang sebagai faktor utama penyebab adanya kejenuhan dalam
belajar, sehingga cara mengatasi keletihannya pun cukup sulit. Penyebab
timbulnya keletihan mental ini diakibatkan karena kecemasan siswa terhadap
dampak yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri, kecemasan siswa terhadap
standar nilai pada pelajaran yang dianggap terlalu tinggi, dan kecemasan siswa
ketika berada pada keadaan yang ketat dan menuntut kerja intelek yang berat.
b) Psikologis
Setiap individu peserta didik, pada dasarnya
memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut
mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa pengaruh psikologis meliputi:
a.
Intelegensi/ Kecerdasan
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai
kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan
ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal, selalu
menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya
perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak
dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah
memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan
sebayanya. Maka Slameto-pun mengatakan bahwa tingkat intelegensi yang tinggi
akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Jika
siswa mengalami tingkat intelegensi yang rendah, siswa tidak dapat mencerna
pelajaran dengan baik, dia akan mendapatkan kesulitan dalam belajarnya. Adapun
makna dari kesulitan belajar itu sendiri, yaitu anak-anak ataupun remaja yang
mengalami kesulitan belajar (learning disability) memiliki intelegensi normal
ataupun diatas rata-rata namun mengalami kesulitan setidaknya satu mata
pelajaran. Konsep umum dalam kesulitan
belajar meliputi masalah dalam mendengarkan, konsenterasi, berbicara, dan
berfikir (Raymon,2004).Berdasarkan ketentuan remaja tidak dinyatakan
mengalami masalah akademis. (Frances dkk., 2005).
Dan dari
kesulitan belajar inilah maka akan terjadi kejenuhan dalam belajar. Kejenuhan
dapat diartikan padat atau jenuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun.Dan
jenuh dapat diartikan dengan bosan. Kejenuhan belajar adalah rentang waktu
tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak membuahkan hasil (Reber,
1988).
Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar
merasa seakan-akan pengetahuan yang diperoleh dan kecakapan yang di peroleh
tidak ada kemajuan. Seorang siswa yang sedang mengalami kejenuhan ini sistem
akalnya tidak akan bekerja dengan baik seperti sebagaimana yang diharapkan.
Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi.
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenal beberapa kegiatan.Kegiatan yang dimiliki seseorang
diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang.Slameto
mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan
terus yang disertai dengan rasa kasih sayang. Minat besar pengaruhnya terhadap
belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah
dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.Untuk menambah
minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan
dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri.
b.
Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah
dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Pernyataan ini sesuai dengan
apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto bahwa bakat dalam hal ini lebih dekat
pengertiannya dengan kata attitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai
kesanggupan-kesanggupan tertentu. Tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang
sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat
mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam
proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting
dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat
yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan
sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.
c.
Motivasi
Mendorong keadaan siswa untuk melakukan
belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam Motivasi dalam belajar adalah faktor
yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang belajar adalah
bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam
kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai
motivasi untuk belajar.
Kolerasi Konsep
Diri dan Prestasi Belajar
Sejumlah ahli
psikologi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi beljar
mempunyai hubungan yang erat.Nylor (1972) mengemukakan bahwa banyak peneliti
yang membuktikan hubungan positif yang kuat antara konsep diri dengan prestasi
belajar disekolah.Siswa yang memiliki konsep diri positif, memperlihatkan
prestasi yang baik di sekolah, atau siswa tersebut memiliki penilaian diri yang
tinggi serta menunjukkan antar pribadi yang positif pula.
Walsh (dalam
Burns, 1982) siswa-siswa yang tergolong underchiver mempunyai konsep diri yang
negative, serta memperlihatkan beberapa karakteristik kepribadian:
1) Mempunyai
perasaan dikeritik, ditolak, dan diisolir.
2) Melakukan mekanisme pertahanan diri dengan cara
menghindar dan bahkan bersikap menentang.
3) Tidak mampu
mengekspresikan perasaan dan perilaku.
Konsep diri
mempengaruhi perilaku peserta didik dan mempunyai hubungan yang sangat
menentukan proses pendidikan dan prestasi belajar mereka.Peserta didik
mengalami masalah disekolah pada umumnya menunjukkan tingkat konsep diri yang
rendah, oleh sebab itu dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan guru
sebaiknya melakukan upaya-upaya yang memungkinkan terjadinya peningkatan konsep
diri peserta didik:
1) Membuat siswa
merasa mendapat dukungan dari guru.Dalam mengembangkan konsep diri yang
positif, siswa perlu mendapat dukungan dari guru.Seperti dukungan emosional,
pemberian penghargaan, dan dorongan untuk maju.
2) Membuat siswa
merasa bertanggung jawab memberi kesempatan terhadap siswa untuk membuat
keputusan sendiri atas perilakunya dapat diartikan sebagai upaya guru untuk
memberi tanggung jawab terhadap siswa.
3) Mebuat siswa
merasa mampu. Ini dapat dilakukan dengan cara menunjukkan sikap dan pandangan
yang positif terhadap kemampuan yang dimiliki siswa.
4) Mengarahkan
siswa untuk mencapai tujuan yang realistis. Dalam upaya meningkatkan konsep
diri siswa, guru harus menetapkan tujuan yang hendak dicapai serealistis
mungkin, yakni tujuan yang sesuai dengan tujuan yang sesuai dengan kemampuan
yang dimilikinya.
5) Membantu siswa
menilai dirinya secara realistis. Pada saat mengalami kegagalan, adakalanya
siswa menilai secara negative, dengan memandang dirinya sebagai orang yang
tidak mampu.
6)
Mendorong siswa
agar bangga dengan dirinya secara realistis. Upaya lain yang harus dilakukan
guru dalam membantu mengembangkan konsep diri peserta didik adalah dengan
memberikan dukungan dan dorongan agar mereka bangga dengan prestasi yang telah
dicapai.