PSIKOLOGI PENDIDIKAN
MOTIVASI
Selasa, 28 April 2015
Neneng Unsara
11140182000047
Program Studi Manajemen Pendidikan
Fakultas IlmuTarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2015
Pengertian Motivasi
Kata motivasi berasal dari
bahasa latin movere, yang berarti menimbulkan pergerakan. Motivasi
adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai
dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Mr. Donald :
1950).
Motivasi adalah suatu
proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk
memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri
individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai
tujuan. (Drs. Moh. Uzer Usman : 2000)
Motivasi adalah kekuatan
tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan
bertindak dengan cara yang khas (Davies, Ivor K : 1986). Motivasi adalah usaha
– usaha untuk menyediakan kondisi – kondisi sehingga anak itu mau melakukan
sesuatu (Prof. Drs. Nasution : 1995)
Robbins dan Judge (2007)
mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan
ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.Samsudin (2005) memberikan
pengertian motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar
terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu
yang telah ditetapkan. Motivasi juga dapat diartikan sebagai dorongan (driving
force) dimaksudkan sebagai desakan yang alami untuk memuaskan dan memperahankan
kehidupan.
Mangkunegara (2005,61)
menyatakan : “motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam
menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). Motivasi merupakan
kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju
untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan
positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk
mencapai kinerja maksimal”.
Sementara motif ialah
segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Atau
seperti dikatakan oleh Sartain dalam bukunya Psychology Understnding of
Human Behavior : motif adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam
suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku/perbuatan ke suatu tujuan atau
perangsang. Memang pengertian motif dan motivasi keduanya sukar dibedakan
secara tegas. Dalam konteks uraian terdahulu dapat dijelaskan bahwa motif
menunjukan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang
menyebabkan orang tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi
adalah “pendorongan” :suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku
seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga
mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Kesulitan dalam
mendefinisikan arti motivasi seperti dikatakan oleh Atkinson dalam
bukunya, An Introduction to Motivation adalah karena istilah
itu tidak memilikia arti yang tetap di dalam psikologi kontemporer. Itulah pula
sebabnya, maka seperti telah dikemukakan Sartain, menggunakan kata motive untuk
pengertian yang sama.
Teori-Teori Motivasi
Dalam konteks studi
psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami
motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:
1. Durasi
kegiatan
2. Frekuensi
kegiatan
3. Persistensi
pada kegiatan
4. Ketabahan,
keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan
5. Devosi
dan pengorbanan untuk mencapai tujuan
6. Tingkat
aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan
7. Tingkat
kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang
dilakukan
8. Arah
sikap terhadap sasaran kegiatan
Untuk memahami tentang
motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain
:
1. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Maslow menyusun teori
motivasi manusia, dimana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam
bentuk hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya
jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan (tabel.1) menyajikan secara
ringkas empat jenjang basic need atau deviciency
need, dan satu jenjangmetaneeds atau growth
needs. Jenjang motivasi bersifat mengikat, maksudnya kebutuhan
pada tingkat yang lebih rendah harus relatif terpuaskan sebelum orang menyadari
atau dimotivasi oleh kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi. Jadi kebutuhan
fisiologis harus terpuaskan lebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman.
Sesudah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, baru muncul kebutuhan
kasih sayang, begitu seterusnya sampai kebutuhan dasar terpuaskan baru akan
muncul kebutuhan meta.
1. Tabel
1 : Jenjang kebutuhan
Jenjang needs
|
Deskripsi
|
|
Kebutuhan berkembang
(metaneeds)
|
self
actualization needs (metaneeds)
|
Kebutuhan orang untuk
menjadi yang seharusnya sesuai dengan realisasi diri, perkembangan self.
|
Kebutuhan harkat
kemanusiaan untuk mencapai tujuan, terus maju, menjadi lebih baik.
Being-values 17 kebutuhan berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman,
pemakaian kemampuan kognitif secara positif mencari kebahagiaan dan pemenuhan
kepuasan alih-alih menghindari rasa sakit. Masing-masing kebutuhan berpotensi
sama, satu bisa mengganti lainnya.
|
||
Kebutuhan karena
kekurangan (basic needs)
|
Estem needs
|
1. Kebutuhan
kekuasaan, penguasaan, kompetensi, kepercayaan diri, kemandirian
2. Kebutuhan
prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi
penting, kehormatan dan apresiasi.
|
Love needs/
belonging –needs
|
Kebutuhan nkasih sayang,
keluarga, sejawat, pasangan, anak. Kebutuhan menjadi bagian kelompok
m,asyarakat. Menurut maslow, kegagalan kebutuhan cinta dan memiliki ini
menjadi sumber hampir semua bentuk psikopatologi.
|
|
Safety needs
|
Kebutuhan keamanan, stabilitas,
proteksi, struktur, hukum, keteraturan, batas, bebas dari takut dan cemas.
|
|
Psychological
needs
|
Kebutuhan homeostatik :
makan, minum, gula, garam, protein, serta kebutuhan istirahat dan seks.
|
|
Pemisahan kebutuhan bukan
berarti masing-masing bekerja secara eksklusif, tetapi kebutuhan bekerja
tumpang tindih sehingga orang dalam satu ketika dimotivasi oleh dua kebutuhan
atau lebih. Tidak ada orang yang kebutuhan basic need-nya
terpuaskan 100%. Maslow memperkirakan rata-rata orang terpuaskan (tabel 2):
No.
|
Kebutuhan Terpuaskan
|
Prosentasi terpuaskan
sampai
|
1
|
Fisiologis
|
85%
|
2
|
Keamanan
|
70%
|
3
|
Dicintai dan mencintai
|
50%
|
4
|
Self esteem
|
40%
|
5
|
Aktualisasi diri
|
10%
|
Dalam mencapai kepuasan
kebutuhan, seseorang harus berjenjang, tidak peduli seberapa tinggi jenjang
yang sudah dilewati, kalau jenjang dibawah mengalami ketidakpuasan atau tingkat
kepuasannya masih sangat kecil, dia akan kembali ke jenjang yang tak terpuaskan
itu sampai memperoleh tingkat kepuasan yang dikehendaki.
Jenis-jenis teori kebutuhan
1. Kebutuhan
Fisiologis
Umumnya kebutuhan fisiologis bersifat neostatik (usaha menjaga keseimbangan
unsur-unsur fisik) seperti makan, minum,gula, garam, serta kebutuhan istirahat
dan seks. Kebutuhan fisiologis ini sangat kuat, dalam keadaan absolut
(kelaparan dan kehausan) semua kebutuhan lain ditinggalkan dan orang berusaha
sekuat tenaga, mengerahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini.
2. Kebutuhan
Keamanan (safety)
Jika kebutuhan fisiologis terpuaskan, muncul kebutuhan keamanan,
stabilitas, proteksi, struktur hukum, keteraturan, batas, kebebasan dari rasa
takut dan cemas. Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada dasarnya adalah
kebutuhan mempertahankan hidup.kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan
mempertahankan hidup jangka pendek, sedangkan keamanan adalah kebutuhan
memepertahankan hidup jangka panjang.
3. Kebutuhan
dimiliki dan cinta ( belonging and love)
Sesudah kebutuhan fisiologis dan keamanan terpenuuhi, kebutuhan dimiliki
atau menjadi bagian dari kelompok sosial dan cinta menjadi tujuan yang dominan.
Sesesorang sangat peka dengan kesendirian, pengasingan, ditolak dilingkungan,
dsan kehilangan sahabat atau kehilangan cinta.
Adsa dua jenis cinta. Yakni Deficiency atau D-love
dan being atau B-love. kebutuhan cinta karena adanya
kekurangan dalam setiap individu itulah D-love. Seseorang mencintai sesuatu
yang tidak dimilikinya, seperti harga diri, seks, atau seseorang yang tidak
membuatnya merasa sendiri. Misalnya : hubungan pacaran, hidup bersama. D-love
adalah cinta yang mementingkan diri sendiri, ingin selalu memperoleh daripada
memberi.
B-love didasarkan pada penilaian mengenai orang lain yang apa adanya, tanpa
adanya keinginana untuk mengubah atau memanfaatkan orang itu. Cinta yang tidak
berniat untuk memiliki, tidak mempengaruhi, dan tujuan utamanya adalah
memberi orang lain gambaran positif. Penerimaan diri dan perasaan dicintai,
yang membuka kesempatan kepada orang itu untuk berkembang.
4. Kebutuhan
Harga Diri (self esteem)
Semua orang dalam masyarakat kita (dengan beberapa pengecualian yang
patologis ) mempunyai kebutuhan dan keinginan akan penilaian mantap, berdasar
dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri, atau harga diri, dan penghargaan
dari orang lain, karenanya, kebutuhan-kebutuhan ini dapat diklasifikasikan
dalam dua perangkat tambahan, yakni pertama keinginan akan kekuatan, prestasi,
kecukupan, keunggulan dan kemampuan, kepercayaan pada diri sendiri dalam
menghadapi dunia serta kemerdekaan dan kebebasan (Abraham H. Maslow : 1993)
Ketika kebutuhan dimiliki dan mencintai sudah relatif terpuaskan, kekuatan
motivasi melemah, namun masih ada motivasi harga diri. Ada dua jenis harga
diri:
a. Menghargai
diri sendiri (self respect) : kebutuhan kekuatan, penguasaan,
kompetensi, prestasi, kepercayaan diri, kemandirian, dan kebebasan.
b. Mendapatkan
penghargaan dari orang lain (respect from other) : kebutuhan prestise,
penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi orang
penting, kehormatan, diterima dan apresiasi. Seseorang membutuhkan pengetahuan
bahwa dirinya dikenal dengan baik dinilai dengan baik oleh orang lain.
5. Kebutuhan
Aktualisasi Diri
Akhirnya sesudah semua kebutuhan dasar terpenuhi, muncullah kebutuhan meta
atau kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan menjadi sesuatu yang orang itu mampu
mewujudkannya secara maksimal dengan seluruh bakat dan potensi yang
dimilikinya. Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memproleh kepuasan dengan
dirinya sendiri (self fullfilment), untuk menyadari semua potensi yang
ada dalamdirinya untuk menjadi apapun yang dapat ia lakukan, dan untuk menjadi
seseorang yang kreatif dan bebas mencapai puncak prestasi dengan potensi yang
dimilikinya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi
manusia yang utruh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang
lain bahkan tidak menyadari adanya kebutuhan semacam itu.
2. Teori Keadilan
Keadilan merupakan daya
penggerak yang memotivasi semangat kerja seseorang, jadi perusahaan harus
bertindak adil terhadap setiap karyawannya. Penilaian dan pengakuan mengenai
perilaku karyawan harus dilakukan secara obyektif. Teori ini melihat
perbandingan seseorang dengan orang lain sebagai referensi berdasarkan input
dan juga hasil atau kontribusi masing-masing karyawan (Robbins, 2007).
3. Teori X dan Y
Douglas McGregor
mengemukakan pandangan nyata mengenai manusia. Pandangan pertama pada dasarnya
negative disebut teori X, dan yang kedua pada dasarnya positif disebut teori Y
(Robbins, 2007).
McGregor menyimpulkan
bahwa pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa
kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka
terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.
4. Teori dua Faktor Herzberg
Teori ini dikemukakan oleh
Frederick Herzberg dengan asumsi bahwa hubungan seorang individu dengan
pekerjaan adalah mendasar dan bahwa sikap individu terhadap pekerjaan bias
sangat baik menentukan keberhasilan atau kegagalan. (Robbins, 2007).
Herzberg memandang bahwa
kepuasan kerja berasal dari keberadaan motivator intrinsik dan bawa
ketidakpuasan kerja berasal dari ketidakberadaan faktor-faktor ekstrinsik
5. Teori Kebutuhan
McClelland
Teori kebutuhan McClelland
dikemukakan oleh David McClelland dan kawan-kawannya. Teori ini berfokus pada
tiga kebutuhan, yaitu (Robbins, 2007) :
a. Kebutuhan
pencapaian (need for achievement) : Dorongan untuk berprestasi dan mengungguli,
mencapai standar-standar, dan berusaha keras untuk berhasil.
b. Kebutuhan
akan kekuatan (need for pewer) : kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku
sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
c. Kebutuhan
hubungan (need for affiliation) : Hasrat untuk hubungan antar pribadi yang
ramah dan akrab.
Apa yang tercakup dalam
teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu. Menurut model
ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah :
a. Persepsi
seseorang mengenai diri sendiri
b. Harga
diri
c. Harapan
pribadi
d. Kebutuhan
e. Keinginan
f. Kepuasan kerja
g. Prestasi
kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal
mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah :
a. Jenis
dan sifat pekerjaan
b. Kelompok kerja dimana seseorang bergabung
c. Organisasi
tempat bekerja
d. Situasi lingkungan pada umumnya
e. Sistem
imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
6. Teori Atribusi
Atribusi adalah sebab-sebab yangb menimbulkan hasil perilaku atau usaha dalam
belajar berupa keberhasilan atau kegagalan. Beberapa hal yang menjadi sebab
keberhasilan atau kegagalan dalam belajar adalah kemampuan, usaha, tingkat
kesulitan dan kemudahan soal/tugas, keberuntungan, suasana hati, dan bantuan
atau rintangan dari orang lain. (Santrock, 2007: 519).
Jenis-Jenis Motivasi
1. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah
motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal individu dan tidak
berkaitan denganb tugas yang sedang dilakukan.
2. Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik ialah
motiovasi yang disebabkan oleh faktor-faktor di dalam diri atau melekat dalamn
tugas yang sedang dilakukan
3. Aliran (Flow)
Bentuk tingkat motivasi
intrinsik yang tinggi (intens), yang melibatkan ketertarikan yang tinggi dan
konsentrasi pada suatu tugas yang menantang. (Csikzentmihalyi 1990, 1996 ;
Scweinle, Turner & Meyer 2006)
Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa
Dalam
rumusan masalah diatas kami mengamati apakah motivasi itu berpengaruh dalam
prestasti belajar siswa, ternyata sangat berpengaruh yaitu :
Motivasi
pada umumnya mempertinggi prestasi dan memperbaiki sikap terhadap tugas dengan
kata lain, motivasi dapat membangkitkan rasa puas dan menaikkan prestasi
sehingga melebih prestasi normal. Hasil baik dalam pekerjaan
yang disertai oleh pujian merupakan dorongan bagi seseorang untuk bekerja
dengan giat. Bila hasil pekerjaan tidak diindahkan orang lain, mungkin kegiatan
akan berkurang. Pujian harus selalu berhubungan erat dengan prestasi yang baik.
Anak-anak harus diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu dengan hasil yang
baik, sehingga padanya timbul suatu “sense of succes” atau perasaan berhasil.
Motivasi berprestasi
merupakan harapan untuk memperoleh kepuasan dalam penguasaan perilaku yang
menentang dan sulit (Mr. Clelland, 1955).
Guru dan Motivasi Pembelajaran
Dalam rumusan tersebut
juga dipertanyakan bagaimana cara guru memotivasi belajar siswa agar menarik
minat siswa untuk belajar, motivasi yang diberikan guru diantaranya :
1. Memberi
angka
2. Hadiah
3. Saingan
4. Hasrat
untuk belajar
5. Sering
memberi ulangan
6. Mengetahui
hasil
7. Kerja
sama
8. Tugas
yang “challenging”
9. Pujian
10. Teguran dan
kesamaan
11. Suasana
yang menyenangkan
12. Tujuan yang
diakui dan diterima baik oleh murid
13. Hargailah
pekerjaan murid
Usaha Guru Dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
1. Mengoptimalkan
Penerapan Prinsip-prinsip Belajar
Ada beberapa prinsip yang
terkait dalam proses belajar, misalnya perhatian siswa, keaktifan siswa,
keterlibatan langsung siswa, materi pelajaran yang merangsang, dan lain-lain.
Agar motivasi belajar siswa meningkat, hendaknya guru berusaha menciptakan
situasi kelas yang kondusif, sehingga perhatian, keterlibatan siswa, dan
lain-lain yang termasuk prinsip balajar dapat berfungsi secara optimal.
2. Mengoptimalkan
Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar
Unsur-unsur dinamis dalam
belajar maksudnya adalah unsur-unsur yang keberadaannya dapat berubah-ubah,
dari tidak ada menjadi ada, dari keadaan lemah menjadi menguat. Unsur-unsur ini
meliputi bahan mengajar dan upaya pengadaannya, alat bantu mengajar dan upaya
pengadaannya, suasana belajar dan upaya pengembangannya, kondisi
siswa dan upaya
penyiapannya.
3. Mengoptimalkan
Pemanfaatan Pengalaman yang Telah Dimiliki Siswa
Siswa lebih senang
mempelajari materi pelajaran yang baru, apabila siswa mempunyai latar belakang
untuk mempelajari materi baru tersebut. Oleh karena itu, guru harus pandai
memilih contoh-contoh untuk menjelaskan suatu konsep baru, contoh-contoh ini
hendaknya banyak terdapat di lingkungan siswa.
4. Mengembangkan
Cita-cita atau Aspirasi Siswa
Setiap siswa mempunyai
cita-cita dalam belajar. Namun tidak semua siswa dapat mencapai kesuksesan
tersebut. Kesuksesan biasanya dapat meningkatkan aspirasi, dan kegagalan
mengakibatkan aspirasi rendah. Untuk meningkatkan aspirasi ini, hendaknya guru
tidak menjadikan siswa selalu gagal. Kegagalan yang berkepanjangan menyebabkan
siswa menjadi tidak bergairah dalam mencapai cita-citanya. Sebaiknya guru
memberi kesempatan kepada siswa untuk merumuskan tujuan belajar yang sesuai
dengan kemampuannya, sehingga motivasi mereka untuk mencapai tujuan itu lebih
kuat.
5. Pergunakan
Pujian Verbal
Kata-kata seperti ”bagus”,
”baik”, ”pekerjaanmu baik”, yang diucapkan guru kepada siswa setelah selesai
mengerjakan yang diperintahkan atau mendekati tingkah laku yang diinginkan,
merupakan pembangkit motivasi yang besar.
6. Pergunakan
Tes dan Nilai Secara Bijaksana
Kenyataan bahwa tes dan
nilai dipakai sebagai dasar berbagai hadiah sosial menyebabkan tes dan nilai
dapat menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi siswa. Siswa belajar karena ada
keuntungan yang diperoleh dengan nilai yang tinggi. Dengan demikian, memberikan
tes dan nilai mempunyai efek dalam memotivasi siswa untuk belajar.
7. Membangkitkan
Rasa Ingin Tahu dan Hasrat Eksplorasi
Di dalam diri siswa ada
potensi yang besar yaitu rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Potensi ini dapat
ditumbuhkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif. Rasa ingin tahu
pada anak didik melahirkan kegiatan yang positif, yaitu eksplorasi. Keinginan
siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru merupakan desakan eksploratif
dari dalam diri siswa. Motivasi akan terus meningkat jika dalam diri siswa
sudah ada rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi.
8. Melakukan
Hal yang Luar Biasa
Untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa, guru harus dapat melakukan hal-hal yang luar biasa,
misalnya menceritakan masalah guru dalam belajar di masa lalu ketika sedang
sekolah seperti mereka, sehingga setelah mendengar cerita dari guru siswa akan
lebih bersemangat dalam belajar dan prestasi siswa akan meningkat. Melakukan
hal yang luar biasa merupakan upaya yang dapat dilakukan guru untuk
meningkatkan motivasi belajar terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan
dalam belajar.
9. Merangsang
Hasrat Siswa
Hasrat siswa perlu
dirangsang dengan memberikan sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila
ia berusaha dan berprestasi dalam belajar. Hadiah yang diberikan kepada siswa
dapat berupa benda, pujian verbal, nilai yang baik dan lain-lain yang akan
merangsang hasrat siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
10. Memanfaatkan Apersepsi Siswa
Pengalaman siswa baik yang
didapat di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah dapat dimanfaatkan ketika
guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Siswa mudah menerima dan menyerap materi
pelajaran dengan menghubungkan bahan pelajaran yang telah dikuasainya. Bahan
apersepsi merupakan seperangkat materi yang dikuasai yang memudahkan untuk
menuju materi pelajaran yang baru.
Prestasi belajar yang baik
dapat diraih oleh setiap siswa jika mereka dapat belajar secara wajar,
terhindar dari berbagai ancaman, hambatan, dan gangguan. Namun sayangnya
ancaman, hambatan, dan gangguan dialami oleh siswa tertentu. Sehingga mereka
mengalami kesulitan dalam belajar. Di setiap sekolah dalam berbagai jenis dan
tingkatan pasti memiliki siswa yang berkesulitan belajar. Masalah yang satu ini
tidak hanya dirasakan oleh sekolah modern di perkotaan, tapi juga dimiliki oleh
sekolah tradisional di pedesaan dengan segala keminiman dan kesederhanaannya.
Daftar Referensi
Maslow, Abraham H. Motivasi
dan Kepribadian 1. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo. 1994.
Omrod, Jeanne Ellis. Psikologi
Pendidikan. Jakarta: Erlangga. 2008.
Purwanto, Ngalim M. Psikologi
Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakaraya. 1990.
Santrock, JohnW. Psikologi
Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Grup. 2007.
Syah, Muhibbin. Psikologi
Pendidikan dengan Pendekatan Terbaru. Bandung: PT. Remaja Rosdakaraya.2013.
Wilcox, Lynn. Psikologi
Kepribadian. Yogyakarta: IRCisoD. 2012.
eprints.undip.ac.id/15599/1/Ferdinand_Kris_Candra.pdf
Anonim:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24885/4/Chapter%20II.pdf

Tidak ada komentar:
Posting Komentar