PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Teori Belajar
Selasa, 5 Mei 2015
Neneng Unsara
11140182000047
Program Studi Manajemen Pendidikan
Fakultas IlmuTarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2015
A. Teori Belajar
Behaviorisme.
Behavior
dalam psikologi atau juga disebut behaviorisme adalah teori pembelajaran yang
didasarkan pada tingkah laku yang diperoleh dari pengkondisisan lingkungan. Pengkondisian terjadi melalui interaksi dengan
lingkungan. Teori ini dapat dipelajari secara sistematis dan dapat diamati
dengan tidak mempertimbangkan dari seluruh keadaan mental.
Behaviorisme
atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar) adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan
organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan harus dianggap
sebagai perilaku.Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian dapat digambarkan
secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau pikiran. Menurut teori belajar tingkah laku,
belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang telah dikatakan sudah mengalami proses
belajar jika telah mampu bertingkah laku dengan cara baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus yang berupa proses dan materi pembelajaran dengan
respon atau tanggapan yang diberikan oleh pebelajar. Misalnya; seorang pelajar
belum dapat dikatakan berhasil dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial jika dia
belum bisa/tidak mau melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial di
masyarakat, seperti; ikut berpartisipasi dalam kegiatan pemilu, kerja
bakti, ronda dll Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.
Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon)
harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab
pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya
perubahan tingkah laku tersebut.
2. Tokoh-tokoh dalam Teori Behaviorisme
a) Ivan Petrovich
Pavlov
Classic
conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli
dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan.Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan
stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku
(respons). Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya
sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan
seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa
yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun
bicara, melainkan tingkah lakunya.
b) John Watson
Watson
menyatakan bahwa hanya tingkah laku yang teramati saja yang dapat dipelajari
dengan valid dan reliable.Dengan demikian stimulus dan respon harus berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati (observable).Watson berpendapat bahwa
introspeksi merupakan pendekatan yang tidak ada gunanya.Alasannya adalah jika
psikologi dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat diamati dan
diukur. Watson mempertahankan pendapatnya bahwa hanya dengan mempelajari
apa yang dilakukan manusia (perilaku mereka) memungkinkan psikologi menjadi ilmu
yang objektif. Watson menolak pikiran sebagai subjek dalam psikologi dan
mempertahankan pelaku sebagai subjek psikologi. Khususnya perilaku yang
observabel atau yang berpotensi untuk dapat diamati dengan berbagai cara baik
pada aktivitas manusia dan hewan. 3 prinsip dalam aliran behaviorisme:
1) Menekankan respon terkondisi sebagai
elemen atau pembangun pelaku. Kondisi adalah lingkungan external yang hadir
dikehidupan.Perilaku muncul sebagai respon dari kondisi yang mengelilingi
manusia dan hewan.
2) Perilaku adalah dipelajari sebagai
konsekuensi dari pengaruh lingkungan maka sesungguhnya perilaku terbentuk
karena dipelajari. Lingkungan terdiri dari pengalaman baik masa lalu dan yang
baru saja, materi fisik dan sosial. Lingkungan yang akan memberikan contoh dan
individu akan belajar dari semua itu.
3) Memusatkan pada perilaku hewan.
Manusia dan hewan sama, jadi mempelajari perilaku hewan dapat digunakan untuk
menjelaskan perilaku manusia.
c) Edward Lee Thorndike
Dalam
bukunya Animal Intelligence (1911) ia menyangkal pendapat bahwa hewan
memecahkan masalah dengan nalurinya. Ia justru berpendapat bahwa hewan juga
memiliki kecerdasan. Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa
terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus
(S) dengan respon (R). Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan
belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap
melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta
didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat
berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak
dapat diamati.
3. Aplikasi teori behavioristik dalam
kegiatan pembelajaran
Aplikasi teori behavioristik dalam
kegiatan pembelajaran yaitu karena memandang pengetahuan adalah objektif,
pasti, tetap dan tidak berubah pengetahuan disusun dengan rapi sehingga
belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah
memindahkan pengetahuan (transfer of knowladge) kepada orang yang belajar.
Fungsi pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada
melalui proses berfikir yang dapat dianalisis dan dipilih, sehingga makna yang dihasilkan
dari proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur
pengetahuan tersebut.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut
teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus
dan output yang berupa respon. Aliran psikologi belajar yang sangat besar
pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan
pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila
diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
4. Kekurangan dan Kelebihan Teori
Behaviorisme
Kekurangan :
Ø Pembelajaran peserta didik hanya
perpusat pada guru.
Ø Peserta didik hanya mendengarkan
dengan tertib penjelasan guru.
Ø Peserta didik tidak bebas berkreasi
dan berimajinasi.
Kelebihan :
Ø Sangat cocok untuk memperoleh
kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan.
Ø Materi yang diberikan sangat detail,
hal ini adalah proses memasukkan stimulus yang yang dianggap tepat.
Ø Membangun konsentrasi pikiran, dalam
teori ini adanya penguatan dan hukuman dirasa perlu.
B. Teori
Belajar Kognitif.
1. Pengertian Teori Belajar Kognitif.
Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting dari sains
kognitif yang telah memberi kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan
psikologi pendidikan. Sains kognitif merupakan himpunan disiplin yang terdiri
atas : psikologi kognitif, ilmu-ilmu computer, linguistic, intelegensi buatan,
matematika, epistimologi, dan neuropsycology (psikologi syaraf).
Pendekatan
psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental
manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak
tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental seperti :
motivasi, kesenjangan, keyakinan, dan sebagainya.
2. Tokoh-Tokoh Teori Belajar Kognitif.
a) Cognitive
Field (Kurt
Lewin)
Teori belajar cognitive field
menitikberatkan perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial, karena pada
hakikatnya masing-masing individu berada didalam suatu medan kekuatan, yang
bersifat psikologis, yang disebut life space. Life space mencakup
perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya orang yang dijumpai,
fungsi kejiwaan yang dimiliki, dan objek material yang dihadapi.
Jadi,
tingkah laku merupakan hasil interaksi antarkekuatan, baik yang berasal dari
individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun yang berasal dari
luar diri individu, seperti tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Menurut
teori ini, berlajar itu langsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur
kognitif. Dengan demikian, peranan motivasi jauh lebih penting daripada reward
atau hadiah.
b) Cognitive
Development (Piaget)
Dalam teori ini, Piaget memandang
bahwa proses berfikir merupakan aktivitas gradual dari fungsi intelektual,
yaitu dari berfikir konkret menuju abstrak. Berarti perkembangan kapasitas
mental memberikan kemampuan baru yang sebelumnya tidak ada.
Perkembangan
intelektual adalah kualitatif, bukan kuantitatif. Inteligensi itu terdiri dari
tiga aspek, yaitu :
1) Struktur atau scheme ialah
pola tingkah laku yang dapat diulang.
2) Isi atau content ialah pola
tingkah laku spesifik, ketika seseorang menghadapi suatu masalah.
3) Fungsi atau function adalah
yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual.
Jadi
perkembangn kognitif tergantung pada akomodasi. Oleh karena itu, siswa harus
diberikan suatu areal yang belum diketahui, agar ia dapat belajar. Dengan
adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha-usaha untuk dapat
mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah perkembangan
kognitif.
c) Teori Benyamin S.Bloom
Benyamin
S.Bloom telah mengembangkan “taksonomi” untuk domain kognitif. Taksonomi adalah
metode untuk membuat urutan pemikiran dari tahap dasar ke arah yang lebih
tinggi dari kegiatan mental, dengan enam tahap sebagai berikut :
1) Pengetahuan (knowledge) ialah
kemampuan untuk menghafal, mengingat atau mengulangi informasi yang pernah
diberikan.
2) Pemahaman (comprehension)
ialah kemampuan untuk menginterpretasi atau mengulang informasi dengan
menggunakan bahasa sendiri.
3) Aplikasi (application) ialah
kemampuan menggunakan informasi, teori, dan aturan pada situasi baru.
4) Analisis (analysis) ialah
kemampuan mengurai pemikiran yang kompleks, dan mengenai bagian-bagian serta
hubungannya.
5) Sintesis adalah kemampuan
mengumpulkan komponen yang sama guna membentuk satu pola pemikiran yang baru.
6) Evaluasi adalah kemampuan membuat
pemikiran berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
C.
Teori Belajar dari Psikolgi Humanistis
1.
Orientasi
Perhatian psikologi humanistic yang terutama tertuju pada masalah
bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud
pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
Menurut para pendidik aliran humanistis penyusunan dan penyajian materi
pelajaran harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.
Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa mengembangkan
dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka
sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1997, p.148)
2.
Awal
Timbulnya Psikologi Humanistis
Pada akhir tahun 1940-1n muncullah suatu perpektif psikologi baru.
Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam
perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial,
dan konselor, bukan merupakan hasil penelitian dalam bidang proses belajar.
Gerakan ini berkembang, dan kemudian dikenal sebagai psikologi humanistis,
eksestransial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha untuk
memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari pengamat
(observer).
Dalam dunia pendidikan, aliran humanistis muncul pada tahun 1960 sampai
dengan 1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama
dua decade yang terakhir pada abad ke-20 ini pun juga akan menuju pada arah
ini. (John Jarolimak dan Clifford D.Foster, 1976, hal.330).
3.
Tokoh-Tokoh
Teori Belajar Humanistis
Ada
beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistis seperti: Combs, Maslov dan
Rogers
a)
Combs
Combs
dan kawan-kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku orang
kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin mengubah
keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan seseorang
dari yang lain. Combs dan kawan-kawan selanjutnya mengatakan bahwa perilaku
buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk
melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila seorang
guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu,
ini sesungguhnya berarti bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi untuk
melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu memberikan
aktivitas yang lain, mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi yang positif.
b)
Maslov
Teori didasarkan atas asumsi
bahwa di dalam diri kita ada dua hal :
1)
Suatu
usaha yang positif untuk berkembang
2)
Kekuatan
untu melawan atau menolak perkembangan itu (Maslov, 1968)
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut
seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil
kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi
mendorong untuk maju kea rah keutuhan, keunikan diri, kea arah berfungsinya
semua kemampuan, kea rah kepercayaan diri mengahadapi dunia luar dan pada saat
itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).
c)
Rogers
Dalam
bukunya “Freedom to Learn”, ia menunjukkan sebuah prinsip-prinsip belajar
humanistic yang penting, diantaranya ialah :
1)
Manusia
itu mempunyai kemampuanuntuk belajar secara alami.
2)
Belajar
yang signifikan terjadi apabila subject matter dirasakan murid mempunyai
relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri.
3)
Belajar
yang menyangkut suatu perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri,
dianggap mengancam dan cenderung unutk ditolaknya.
4)
Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan untuk diasimilasikan
apabila ancaman-ancaman dari luar itu semkain kecil
5)
Apabila
ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai
cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6)
Belajar
yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7)
Belajar
diperlanacar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
beertanggung jawab terhadap proses belajar itu.
8)
Belajar
atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan
maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan
lestari.
9)
Kepercyaaa
terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreatifitas lebih mudah dicapai apabila
terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendirinya
dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting.
10)
Belajar
yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar
mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap
pengalaman dan pnyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenal proses perubahan
itu.
D.
Teori Belajar Konstruktivisme
1. Orientasi
Belajar menurut konstruktivisme adalah
suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan pengalaman atau pelajaran yang
dipelajari dengan pengertian yang sudah dimilikinya, sehingga pengetahuannya
dapat dikembangkan.
Teori Konstruktivisme didefinisikan
sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu
makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami
hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus
respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia
membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya
sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan
yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan
dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai
pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Menurut teori ini, satu prinsip yang
mendasar adalah guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, namun
siswa juga harus berperan aktif membangun sendiri pengetahuan di dalam
memorinya. Dalam hal ini, guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini,
dengan membri kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide – ide
mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan
strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan siswa anak tangga
yang membawasiswa ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa
sendiri yang mereka tulis dengan bahasa dan kata – kata mereka sendiri.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan,
bahwa makna belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, dimana
peserta didik membina sendiri pengtahuannya, mencari arti dari apa yang mereka
pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan
kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya (Shymansky, 1992).
2.
Proses
Mengkonstruksi Pengetahuan
Manusia dapat mengetahui sesuatu
dengan menggunakan inderanya. Melalui interaksinya dengan objek dan
lingkungannya, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, mambau, atau
merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu
yang sudah ditentukan melainkan sesuatu proses pembentukan. Semakin banyak seseorang
berinteraksi dengan objek dan lingkungannya, pengetahuan dan pemahamannya akan
objek dan lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci.
a) Karakter Manusia
Masa Depan
Upaya membangun sumber daya manusia
ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang
dikehendaki. Karakteristik manusia masa depan yang dikehendaki tersebut adalah
manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap
resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui
proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri dan menjadi diri
sendiri yaitu suatu proses … (to) learn to be. Mampu
melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi
kelestarian dan kejayaan bangsanya (Raka Joni, 1990).
Kepekaan, bearti ketajaman baik
dalam arti kemampuan berpikirnya, maupun kemudah tersentuhan hati nurani di
dalam melihat dan merasakan segala sesuatu, mulai dari kepentingan orang lain
sampai dengan kelestarian lingkungan yang merupakan gubahan Sang Pencipta.
Kemandirian, berarti kemampuan menilai proses dan hasil berfikir sendiri di
samping proses dan hasil berfikir orang lain, serta keberanian bertindak sesuai
dengan apa yang dianggapnya benar dan perlu. Tanggung jawab, berarti kesediaan
untuk menerima segala konsekuensi keputusan serta tindakan sendiri. Kolaborasi,
bearti disamping mampu berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri, individu
dengan ciri-ciri diatas juga mampu bekerja sama dengan individu lainnya dalam
meningkatkan mutu kehidupan bersama.
Langkah strategis bagi perwujudan
tujuan diatas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan
berdaya guna tinggi. Student active learning atau
pendekatan cara belajar siswa aktif didalam pengelolaan kegiatan belajar
mengajar yang mengakui sentralitas peranan siswa didalam proses belajar, adalah
landasan yang kokoh bagi terbentuknya manusia-manusia masa depan yang
diharapkan. Pilihan tersebut bertolak dari kajian-kajian kritikal dan empirik
disamping pilihan masyarakat (Raka Joni, 1990)
Penerapan ajaran tut wuri handayani merupakan wujud nyata yang
bermakna bagi manusia masa kini dalam rangka menjemput masa depan. Untuk
melaksanakannya diperlukan penanganan yang memberikan perhatian terhadap aspek
strategis pendekatan yang tepat memusatkan perhatian pada terbentuknya manusia
masa depan yang memiliki karakteristik diatas. Kajian terhadap teori belajar
konstruktivistik dalam kegiatan belajar dan pembelajaran memungkinkan menuju
kepada tujuan tersebut.
b) Tujuan dan Karakteristik Teori Konstruktivisme
Tujuan teori konstruktivisme adalah:
Ø Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan
pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
Ø Membantu siswa untuk mengembangkan perngertian
dan pemahaman konsep secara lengkap.
Ø Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi
pemikir yang mandiri. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar
itu.
Karakteristik pembelajaran konstruktivisme adalah:
Ø Memberi peluang kepada pembelajar untuk membina
pengetahuan baru melalu keterlibatannya dalam dunia sebenarnya.
Ø Mendorong ide-ide pembelajar sebagai panduan
merancang pengetahuan.
Ø Mendukung pembelajaran secara kooperatif.
Ø Mendorong dan menerima usaha dan hasil yang
diperoleh pembelajar.
Ø Mendorong pembelajar untuk bertanya atau
berdialog dengan guru.
Ø Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses
yang sama penting dengan hasil pembelajaran
Ø Mendorong proses inkuiri pembelajar melalui
kajian dan eksperimen.
3.
Tokoh-Tokoh
Teori Belajar Konstruktivisme
Ada
beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran Konstruktivisme yaitu :
a)
Driver dan Bell
Driver
dan Bell mengajukan karakteristik sebagai berikut :
Ø siswa tidak
dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,
Ø belajar mempertimbangkan
seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa,
Ø pengetahuan bukan
sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal,
Ø pembelajaran
bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas,
Ø kurikulum bukanlah
sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
b) J.J.
Piaget
Berikut
adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual
atau tahap perkembangan kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental,
sebagai berikut :
Ø Perkembangan
intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan
urutan yang sama.
Ø Tahap-tahap tersebut
didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan,
pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang
menunjukkan adanya tingkah laku intelektual,
Ø Gerak melalui
tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses
pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi)
dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
c)
Tasker
Tasker
Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar
konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat
kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah
mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima
4.
Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran
Konstruktivisme
Lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran
yang konstruktivis sebagai berikut:
a) Memerhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal
siswa
b) Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
c) Adanya lingkungan sosial yang kondusif
d) Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri
e) Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang
dunia ilmiah
5.
Kelebihan dan Kekurangan Teori Konstruktivisme
Kelebihan :
a)
Pembelajaran
konstruktivistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan
secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri.
b)
Pembelajaran
konstruktivistik memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah
dimiliki siswa sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan
tentang fenomena yang menantang siswa.
c)
Pembelajaran
konstruktivistik memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya.
Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi
tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat.
d)
Pembelajaran
konstruktivistik memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru
agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan
berbagai konteks.
e)
Pembelajaran
konstruktivistik mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka
setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk
mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
f) Pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan
belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling
menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
Kelemahan :
a)
Siswa
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
b)
Konstruktivistik
menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri.
c)
Situasi dan
kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana
prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreativitas siswa.
Daftar
Referensi
Syah Muhibbin.
Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2009
Dalyono.
Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. 2007
Djaali.
Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. 2014
http://www.academia.edu/8234921/TEORI_BELAJAR_BEHAVIORISME
https://hasanahworld.wordpress.com/2009/03/01/teori-belajar-kognitif/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar